anda pasti bertanya tanya apa itu formula ekd, formula ekd
adalah suatu formula yang dapat dimanfaatkan sebagai starter atau biang
fermentasi bahan organik untuk membuat pupuk, pakan, biopestisida,
bioherbisida, pembersih lantai, dan juga ramuan kecantikan alamiah. dinamakan
ekd karena yang menemukan adalah ermina komala dara jadi ekd merupakan
singkatan dari nama penemunya. ini penjelasan mengenai formula ekd.
EKD adalah kependekan dari nama perempuan kelahiran
Palangkaraya, 19 November 1965 ini. Formula EKD ini dapat dimanfaatkan sebagai
starter atau biang fermentasi bahan organik untuk membuat pupuk, pakan, biopestisida,
bioherbisida, pembersih lantai, dan juga ramuan kecantikan alamiah.
Pembuatan formula EKD diawali dengan menyiapkan ragi.
Bahannya akar pinang, akar alang-alang, kunyit, temulawak, lengkuas, serai,
merica, cabe rawit, cengkeh, kayu manis, tembakau, cabe jawa, kapulaga, adas
manis, jintan, bawang putih, dan pala.
Semua bahan tadi ditumbuk hingga halus, dicampur air dan
disaring. Selanjutnya dicampurkan dengan tepung beras, digerus hingga rata,
dengan kadar air 30 hingga 40 persen. Adonan tadi dikepal bulat seukuran bola
pingpong dan ditekan bagian tengahnya.
Untuk mempercepat fermentasi dapat dibaluri ragi yang sudah
jadi. Semua bahan tadi selanjutnya ditaruh pada nampan, ditutup rapat dengan
kain, dan didiamkan dua hari dua malam. Kemudian, bulatan-bulatan tadi dijemur
di terik matahari sekitar 10 hari. Jadilah ragi.
Pembuatan formula EKD dapat menggunakan tape ketan atau
lahang (anding, minuman beralkohol tradisional Dayak). Caranya, tape ketan
dimasukkan ke gentong, ditaburi ragi, kemudian ditambahi gula pasir dan air.
Gentong ditutup rapat dan didiamkan sedikitnya dua pekan. Satu hingga dua kali
sehari tutupnya dibuka dan diaduk. Maka, selesailah pembuatan formula EKD
berbasis tape ketan.
2. PROF. DR. RAHMIANA-ZEIN
Di bawah bimbingan
Profesor Toyohide Takeuchi di Universitas Gipu, Jepang, pada tahun 1998, Prof.
Dr. Rahmiana Zein, yang saat itu sedang melakukan penelitian untuk disertasi doktor
bidang kimia menemukan teknik kromatografi tercepat di dunia. Jika sebelum ini
peneliti membutuhkan waktu antara 1.000 dan 100 menit untuk membedah senyawa
kimia, teknik yang digunakan Rahmiana Zein mampu mendiagnosis senyawa kimia
dalam waktu kurang dari 10 menit.
3. WIDIOWATI SISWOMIHARJO
Penemu Bahan Baru
untuk Gigi Palsu yang Lebih Aman dan Murah.
Sebagai lulusan fakultas kedokteran gigi, ia tentu bergelar dokter gigi. Bahkan, ia juga menyandang gelar doktor dengan disertasi seputar gigi. Tapi, percaya atau tidak, ia sama sekali belum pernah mencabut gigi pasien. Ia juga mengaku, salah satu gurunya di bidang gigi ini adalah seorang seniman. Itulah Dr drg Widowati Siswomihardjo MS. Dengan terus terang, ia mengaku selalu berusaha menghindari kemungkinan mencabut gigi pasien. "Benar. Bukan pasien yang kabur karena giginya harus dicabut, justru saya yang tunggang langgang tiap kali harus mencabut gigi," ujar dosen dan peneliti di UGM ini. Widowati mengaku kurang pede (percaya diri) tiap kali harus berhadapan dengan pasien yang hendak mencabutkan gigi. Maklum, ia mengaku takut melihat darah dari mulut pasien. Ia juga mengaku tidak bisa menemukan nikmatnya praktik dokter gigi.
Tak aneh, meski bergelar dokter gigi, ia sama sekali tidak pernah praktik. Kok bisa lulus kedokteran gigi?
Putri mantan Rektor UNS Solo Prof Dr Kunto Wibisono Siswomihardjo ini mengaku mengambil bagian non-klinik dan menekuni kedokteran gigi bagian ilmu bahan. Tapi, kan ada masa pengabdian masyarakat? Widowati, rupanya, punya "resep" agar terhindar dari mencabut gigi orang. Mestinya, tiap mahasiswa atau dosen harus menjalani pengabdian masyarakat sebagai syarat pencapaian akademik. Tapi, Widowati selalu memilih bagian diagnosis awal pasien. Dengan begitu, ia tidak harus mencabut gigi. "Tiap ada pengabdian masyarakat, saya ambil bagian paling ujung, bagian memeriksa mulut pasien. Setelah itu, saya arahkan pasien ke teman-teman yang siap mencabut. Jadi, ya saya tidak pernah mencabut gigi," kilahnya.
Dengan alasan sama, Widowati mengaku menyukai pengabdian masyarakat di sekolah, khususnya SD. "Gigi anak kan masih bagus, rapi. Di sini, yang lebih perlu justru penyuluhan agar anak-anak itu tidak sampai mencabut gigi. Jadi, pengabdian sebagai syarat akademik tetap jalan tanpa harus mencabut gigi," selorohnya.
Meski begitu, prestasi lulusan FKG UGM 1982 ini tergolong tidak biasa. Nyatanya, ia menemukan polyester yang bisa dijadikan bahan alternatif pembuatan basis gigi tiruan murah. Temuan itu ia kembangkan dari penelitian untuk disertasi doktor di Program Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya 1999 dengan promotr Prof Dr Soekotjo Djokosalamoen.
Polyester EBP-2421 temuannya, menurut Widowati, jauh lebih murah daripada resin Akrilik yang dipakai di dunia kedokteran gigi sejak 1937. "Bahan ini juga mudah diperoleh di dalam negeri," kata wanita yang mengaku bercita-cita jadi diplomat ini. Ia lantas membandingkan. Resin akrilik yang selama ini dipakai harus diimpor. Harganya ratarata Rp 400 ribu per kilogram. Polyester, kata ia, dibuat di Tangerang dan harganya Rp 25 ribu per kilogram. "Secara kimiawi, bahan ini juga lebih aman bagi pemakai dan waktu pembuatan lebih pendek," urainya.
Keamanan bahan ini bagi manusia itulah yang kini sedang dipatenkan Widowati. Untuk itu, ia sudah mencobakan polyester ke hewan percobaan dan biakan sel sebagai prosedur ilmiah sebelum ke manusia. Dengan bantuan peneliti senior dari kedokteran farmasi, kedokteran hewan, MIPA Kimia dan fisika, hingga teknik mesin, telah pula dilakukan uji mutagenik. Hasilnya?
"Bahan ini tidak menyebabkan kanker atau efek negative lainnya. Jadi, memang aman," tutur penerima penghargaan peneliti dari UGM ini.
Bila bahan ini diterima sebagai bahan basis gigi tiruan, kata Widowati, akan ada penghematan luar biasa di dunia pendidikan dokter gigi. Widowati lalu menggambarkan, tiap tahun 90-100 mahasiswa FKG harus praktikum membuat model gigi. Itu hanya di satu universitas. Padahal, ada belasan universitas yang punya FKG. "Dengan harga jauh lebih murah, biaya praktik tentu jauh lebih hemat," jelasnya. (Erwan W) --- Sumber: Harian Jawa Pos, 29 Februari 2004.
4. EVVY KARTINI
Penemu Penghantar
Listrik Berbahan Gelas
Di
kalangan internasional, Dr. Evvy Kartini memiliki reputasi terhormat. Ia
dikenal sebagai ilmuwan penemu penghantar listrik berbahan gelas dengan teknik
hamburan netron yang berdaya hantar sepuluh ribu kali lipat dari bahan
sebelumnya. Penemuannya itu membuka peluang produksi baterai mikro isi ulang. Material kaca yang lebih elastis, secara logika bisa dibentuk semungil dan
setipis mungkin. Revolusi baterai pun di depan mata. Baterai tidak lagi identik
berpenghantar elektrolit cair.
Sebelum
menemukan bahan-bahan gelas berpenghantar listrik superionik, dibutuhkan
percobaan mahal. Inilah yang sempat membuatnya hampir putus asa. Biaya dan
fasilitas penelitian di Indonesia, termasuk Batan, tidak memungkinkannya.
Beruntung, Evvy, penerima penghargaan Indonesia Toray Science Foundation/ITSF
2004 ini bukanlah tipe yang mudah putus asa. Dikirimkannya proposal itu ke
lembaga penelitian di Kanada.
Ketertarikan
sarjana Fisika lulusan ITB itu terhadap pengembangan material gelas berawal
pada saat ia magang di Hahn Meitner Institute (HMI) di Berlin, Jerman, 1990. Ia
dibimbing ahli hamburan netron Prof Dr Ferenc Mezei.
Karier
penelitiannya dimulai saat menyelesaikan S2-nya di Universitas Teknik Berlin.
Ia berhasil menemukan model baru difusi dalam material gelas. Penemuan itu
dipresentasikan pada Konferensi Internasional Hamburan Netron (ICNS) Jepang.
Maka namanya mulai tercatat dalam jurnal penelitian internasional bergengsi
seperti Physica B (1994). Sejak itu, tawaran presentasi dan konferensi mengalir
deras.
Tahun
1996, melalui kolaborasinya dengan profesor dari Universitas Mc Master, Kanada,
Evvy kembali menemukan hal baru: adanya puncak Boson pada saat energi rendah.
Temuan itu dipresentasikannya pada 600 peserta konferensi hamburan netron Eropa
I/ECNS di Interlaken, Swiss. Namanya kembali tercatat dalam jurnal
internasional, Canadian Journal of Physics (1995), Physical Review B (1995),
dan Physica B (1997).
Ia
pun mulai berkolaborasi dengan profesor dari Organisasi Sains dan Teknologi
Nuklir Australia (ANSTO). Profesor itulah yang membuka jalan untuk
berkolaborasi dengan banyak profesor lain di negara maju.
Penelitian
tentang bahan-bahan superionik berbahan gelas ia mulai tahun 1996, sepulang dari
Jerman. Ia sempat frustrasi karena terbatasnya fasilitas, tetapi tetap tekun
menyiapkan eksperimen, seperti difraksi Sinar X dan pengukuran suhu serta
konduktivitasnya, untuk dikirim ke Chalk River Laboratory, Kanada.
Tahun
1998 ia menerima penghargaan Riset Unggulan Terpadu (RUT) VI dari Kementerian
Negara Riset dan Teknologi atas penelitiannya berjudul "Sintesa dan
Karakterisasi Bahan-bahan Gelas Superionik (AgI)x(AgPO3)1-x". Tahun itu
juga, ia menerima tawaran program postdoctoral di Kanada.
Sungguh
kebetulan. Ia tidak perlu menyupervisi contoh yang akan dieksperimen di Kanada.
Bersama Prof Dr MF Collins, ia mencoba memahami mekanisme konduksi dari bahan
gelas bersifat superionik dan mengamati ketergantungan suhu bahan-bahan
superionik.
Saat
itu pula ia mulai berkolaborasi dengan para profesor peneliti netron dari
Jepang dan Inggris, negara-negara terkemuka dalam penelitian netron. Kolaborasi
menghasilkan fenomena dinamika ion dalam bahan-bahan gelas. Penemuan besar yang
dicari para ilmuwan dari berbagai belahan dunia.
Dalam
tempo dua tahun, 1998-2000, namanya tercatat di sepuluh jurnal bergengsi
sebagai peneliti utama. Selain tercatat di jurnal Physica B, Evvy juga menulis
buku Solid State Ionics (2001) bersama profesor dari Jepang.
Di
tengah kepopulerannya di kalangan fisikawan negara maju, dan berbagai bujukan
dengan segala fasilitas untuk berkiprah di luar negri, namun istri Dr Ir
Pratondo Busono (Kepala Bidang Instrumentasi Kedokteran BPPT) mengatakan tetap
ingin bertahan di Indonesia. Ia mengaku masih ingin bebas meneliti dan
memberikan ilmunya untuk kemajuan negeri ini. (Gesit Ariyanto) --- Sumber:
Harian Kompas, 2004.
5. NENY NURAINY
Penemu Varian Virus
Hepatitis B Spesifik Indonesia
Perempuan muda kelahiran kota kembang, Bandung, 14 Februari
1974 ini, Alhamdulillah telah berhasil menemukan varian virus hepatitis B khas
Indonesia setelah memeriksa darah pasien yang positif mengandung HbsAg, yakni
antigen pada selubung terluar Hepadna viridae (nama ilmiah virus hepatitis B).
Penelitian ini merupakan penelitian terbaru dalam
dunia biologi molekuler virus. Dan merupakan berkah bagi perkembangan
antibiotika dan proses penyembuhan pasien hepatitis B yang kini jumlahnya kian
hari kian meningkat.
Dengan metode yang dikembangkannya dan diberi nama
ELISA (enzyme-linked immunisorbenty assay), Neni berhasil membedah dan memilah
virus yang mematikan itu dalam serotipe: adw, adr, ayw dan ayr. Dengan
demikian, virus penyerang tersebut berhasil diklasifikasikan berdasarkan
genotipe perbedaan susunan nukleotida pada DNA (deoxyribo nucleic acid)-nya.
Ada delapan genotype
yang berhasil ditemukan: A, B, C, D, E, F, G dan H, dimana
genotipe tersebut terbagi lagi dalam sub-sub genotipe, misalnya: Ba, Bwi (B
west indonesia), Bei (B east indonesia), Bci (B chinese indonesia) dan Bj untuk
genotipe B.
Dengan penemuan metode baru ini maka tes DNA virus
yang sebelumnya bisa memakan waktu lama dan harga yang sangat tinggi, bisa
ditekan dengan harga yang jauh lebih murah dan cepat. Bahkan diagnosis dokter
akan lebih fokus serta lebih spesifik pada sasaran dan dapat benar-benar
memberikan serangan penghancur terhadap virus.
Tak ayal, penemuan Neni ini sangat membantu pasien
dalam menentukan terapi apa yang paling tepat bagi diagnosis penyembuhan
penyakit hepatitisnya. Selain itu juga bisa digunakan untuk perbedaan membuat
manifestasi klinik penyakit hepatitis B. Sehingga perkembangan akumulasi
hepatitis menjadi akumulasi hepatitis akut, sirosis hati atau kanker hati akan
terdeteksi dan tercegah sejak dini.
Neni sendiri menemukan metode ini pada waktu
menyelesaikan program doktoral ilmu biomedik di Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia (FKUI). Penelitian yang dilakukan di Lembaga Biologi Molekuler
Eijkman (Lembaga Eijkman) ini sebenarnya pada mulanya adalah penelitian untuk
program master. Namun karena penemuannya dianggap spektakuler oleh ahli
hepatitis, dr. David Handojo
Muljono, SpPD, PhD. dan ahli biologi molekuler dr. Herawatie
Sudoyo, PhD., Neni dipromosikan menjadi mahasiswa S3 sekaligus tesisnya
dijadikan sebagai penelitian program doktoral. Apalagi nilai akademik Neni
dalam program pasca sarjana Biomedik sangat memungkinkan untuk melanjutkan
jenjang doktoral ini.
Dalam penelitian ini, Neni mengambil 36 sampel serum
dari delapan populasi sehat yang tersebar di Nusantara. Mulai dari etnik Jawa,
Batak Karo dan Dayak Benuaq (mewakili Indonesia Barat). Juga Bugis, Makassar,
Mandar, Toraja, Alor dan Sumba (mewakili Indonesia Timur) serta Indocina
(mewakili keturunan Tionghoa).
Dari tiga penggolongan tersebut (gen yang berada
dibawah adw, ayw dan adr), oleh Neni dilakukan uji statistik chisquare. Dimana
perlakuan ini pada akhirnya menghasilkan sebuah penemuan baru lagi yaitu
hubungan antara serotipe dan genotipe atau subgenotipe VHB. Data serotipe
inilah yang oleh Neni dikonversikan menjadi genotipe atau sub genotipe.
Keberhasilan dalam upaya pengkonversian serotipe
inilah yang mengantarkan Neni meraih gelar doktor dengan predikat yudisium
cumlaude, sekaligus mengantarkannya sebagai doktor keenam dan doktor termuda
dari program Ilmu Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).
Padahal semasa remaja, dia termasuk badung. Tapi karena
ketatnya sang ayah maka setiap sebelum adzan berkumandang dapat dipastikan Neni
akan buru-buru pulang. ”Kalau
tidak, ayah akan marah besar. Dan jangan harap bisa menonton acara kartun di TV
yang kami sukai
saat itu”, jelas
Neni.
Perjalanan hidup dan pendidikan kedua orangtua Neni
ini sepertinya membekas dalam karakter hidupnya. Bermula dari keprihatinan,
kemudian melahirkan penemuan spektakuler, yang InsyaAllah berguna untuk
kemaslahatan umat manusia. --- Sumber: Majalah Tarbawi, edisi 107/Th.7/1426 H.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar